LARANGAN RISYWAH DALAM HADIS: Kritik Sanad–Matan dan Implikasi Sosial Politik di Indonesia

Maulana Maulana

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hadis-hadis larangan risywah melalui pendekatan kritik sanad dan matan serta mengkaji implikasi sosial-politiknya dalam konteks Indonesia kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan ilmu hadis, pemaknaan kontekstual hadis, dan analisis sosial-politik. Sumber data primer berasal dari kitab-kitab hadis mu‘tabarah seperti Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmidhi, Musnad Ahmad, dan literatur ilmu hadis klasik, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari artikel jurnal, buku akademik, serta regulasi hukum antikorupsi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis-hadis larangan risywah memiliki kualitas sanad yang beragam. Sebagian riwayat ditemukan mengandung kelemahan seperti idhthirāb, keberadaan perawi majhūl, dan kelemahan hafalan beberapa perawi seperti Laits bin Abi Sulaim dan Ishaq bin Yahya bin Thalhah. Namun demikian, terdapat pula riwayat-riwayat yang dinilai hasan hingga sahih, khususnya dari jalur Abdullah bin ‘Amr dan Abu Hurairah, sehingga secara umum hadis larangan risywah dapat dijadikan hujah normatif dalam Islam. Dari aspek matan, hadis-hadis tersebut memiliki kesesuaian dengan prinsip Al-Qur’an dan tujuan syariat dalam menjaga keadilan serta mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Penelitian ini juga menemukan bahwa risywah dalam konteks modern mengalami perluasan makna yang mencakup politik uang, gratifikasi birokrasi, jual beli jabatan, suap proyek, dan korupsi struktural. Praktik tersebut berkaitan erat dengan budaya patronase politik dan oligarki kekuasaan dalam sistem demokrasi modern di Indonesia. Selain itu, penelitian ini menemukan adanya keselarasan antara hadis larangan risywah dan hukum positif Indonesia, khususnya UU No. 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap dan regulasi antikorupsi lainnya. Namun, problem utama pemberantasan korupsi di Indonesia tidak hanya terletak pada lemahnya regulasi, melainkan juga rendahnya integritas moral dan budaya permisif terhadap korupsi. Oleh karena itu, hadis larangan risywah memiliki relevansi penting sebagai basis etika publik dan landasan moral dalam membangun budaya antikorupsi, reformasi birokrasi, dan penguatan demokrasi yang berkeadilan.

Full Text:

PDF

References


Abu Dawud. (n.d.). Sunan Abī Dāwud. Beirut: Dār al-Fikr.

Ahmad ibn Hanbal. (n.d.). Musnad Aḥmad ibn Ḥanbal. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.

Azizah, W., & Arifin, T. (2024). Suap menyuap dalam perspektif Pasal 2 & 3 UU No. 11 Tahun 1980 dan hadits riwayat Ahmad. Jurnal Hukum Islam, 12(2), 115–130.

Cahya, O. D., & Askar, R. A. (2025). Kajian kualitas hadits tentang risywah dalam perspektif ulumul hadits: Analisis sanad dan matan. Jurnal Studi Hadis, 9(1), 45–67.

Al-Dhahabi. (n.d.). Mīzān al-I‘tidāl fī Naqd al-Rijāl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Haitsami. (n.d.). Majma‘ al-Zawā’id wa Manba‘ al-Fawā’id. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Hakim al-Naysaburi. (n.d.). Al-Mustadrak ‘alā al-Ṣaḥīḥayn. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ikhsan, M., & Iskandar, A. (2021). Hukum seputar risywah dalam perspektif hadis Nabi. Al-Tadabbur: Jurnal Kajian Sosial, Peradaban dan Agama, 7(2), 201–220.

Izzadine, A., & Kholis, N. (2025). Korelasi antara hadis larangan risywah dan hadiyat al-‘ummal dengan undang-undang negara. Jurnal Hukum dan Syariah, 10(1), 77–95.

Ibn Adi. (n.d.). Al-Kāmil fī Ḍu‘afā’ al-Rijāl. Beirut: Dār al-Fikr.

Ibn Hajar al-Asqalani. (n.d.). Tahdhīb al-Tahdhīb. Beirut: Dār al-Fikr.

Ibn Majah. (n.d.). Sunan Ibn Mājah. Beirut: Dār al-Fikr.

Ibn al-Shalah. (n.d.). Muqaddimah Ibn al-Ṣalāḥ fī ‘Ulūm al-Ḥadīth. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Klitgaard, R. (1988). Controlling corruption. Berkeley: University of California Press.

Al-Mundziri. (n.d.). Al-Targhīb wa al-Tarhīb. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Nurdin, M. S., dkk. (2025). Suap (risywah) untuk mempertahankan hak milik dalam perspektif Imam al-Nawawi. Jurnal Fikih dan Ushuluddin, 8(1), 55–74.

Qaradawi, Y. (1995). Kayfa nata‘āmal ma‘a al-sunnah al-nabawiyyah. Cairo: Dār al-Syurūq.

Rachmawan, H., dkk. (2025). Bribery in the perspective of hadith: A study of commentary and contextualization. International Journal of Islamic Studies, 6(1), 88–104.

Rajab, H. (2021). Modus operandi korupsi dan kaitannya dengan aparatur negara dalam hadis-hadis Nabi dan perundang-undangan di Indonesia. Jurnal Antikorupsi dan Etika Publik, 5(2), 144–163.

Al-Suyuti. (n.d.). Al-Jāmi‘ al-Ṣaghīr. Beirut: Dār al-Fikr.

Al-Suyuti. (n.d.). Tadrīb al-Rāwī fī Syarḥ Taqrīb al-Nawāwī. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Tirmidhi. (n.d.). Sunan al-Tirmidhī. Beirut: Dār al-Fikr.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. (1980). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 58.

Winters, J. A. (2011). Oligarchy. New York: Cambridge University Press.




DOI: http://dx.doi.org/10.24014/nusantara.v22i1.39656

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

  Nusantara; Journal for Southeast Asian Islamic Studies Indexed By:

   JMPID TELAH TERAKREDITASI SINTA 5 | Jurnal Manajemen Pendidikan Islam  Darussalam (JMPID)

Mailing Address:

Nusantara Journal for Southeast Asian Islamic Studies is published by Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Gedung Islamic Center Lt. I Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jl. H.R. Soebrantas Km. 15 No. 155 Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru - Riau 28293, PO. BOX 1004.