PENGARUH TANAMAN SELA SORGUM MANIS TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN KARET BELUM MENGHASILKAN

Sahuri Sahuri

Abstract


The Land between row of immature rubber period has a potential to produce sweet sorghum. This sorghum is one of high value commodities for food and energy security due to its wide adaptation. The objective of this research were to study the effect of rubber+sorghum intercropping system on the growth of immature rubber trees and to study some agronomic parameters of sorghum and production of sweet sorghum as rubber intercrops. The experiment was conducted at the Sembawa Research Station from June to October 2013. The experiment was carried out as a single factori using Randomized Block Design with three replications. The treatment were 3 varieties of sorghum i.e: Pahat, Kawali and Mandau. Observation of rubber trees was conducted using simple random sampling method, comparing the rubber trees growth of sorghum intercropping system with the rubber trees growth of monoculture system. The results showed that sorghum had a positive effect on the growth of rubber tree IRR 118. Furthermore, fresh stem weight (37.11 t/ha), juice yield (1.80 t/ha), and grains yield (2.69 t/ha) of sweet sorghum Kawali higher than that of the varieties tested. The Kawali has a high potential to produce a biofuel because it had a highest fresh stem weight and juice content.


Keywords


Sorghum + rubber, sweet sorghum, intercrops, and land productivity

Full Text:

PDF

References


Agustina, K., D. Sopandie, Trrikoesoemaningtyas dan D. Wirnas. 2010. Tanggap Fisiologi Akar Sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) terhadap Cekaman Aluminium dan Defisiensi Fosfor di dalam Rhizotron. J. Agron. Indonesia, 38 (2) : 88 – 94.

Anas, Sumadi dan A.W. Irwan. 2007. Variabilitas Genetik Dan Heritabilitas Beberapa Karakter Penting 19 Genotipe Elite Sorgum (Sorghum Bicolor (L) Moench) pada Pertanaman Musim Kering. Prosiding Simposium Tanaman Pangan. Seminar dan Kongres IX PERAGI. Bandung 17-18 Maret. Hal. 167-172.

Anwar, K. 2001. Manajemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet Medan. 24 hal.

Aqil, M dan Z. Bunyamin. 2013. Optimalisasi Pengelolaan Agroklimat Pertanaman Sorgum. Seminar Nasional Serealia, 2013. Balai Penelitian Tanaman Serealia. p. 371-379.

Ar-riza, I.D. Nazemi, dan M. Alwi. 2001. Peranan Glifosat Dalam Pengendalian Gulma dan Suksesi Gulma pada Pertanaman Padi Intercrop dengan Tanman Karet di Lahan Kering Masam. Prosiding Konferensi Nasional XV, Himpunan Ilmu Gulma Indonesia. Suroto, D., A. Yunus, E. Purwanto, Wartoyo, dan Supriyono (ed), Surakarta, 17-19 Juli. hal. 496-503.

As-syakur, A.R. 2009. Evaluasi Zona Agroklimat Dari Klasifikasi Schimidt-Ferguson Menggunakan Aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG). Jurnal Pijar MIPA. 3(1):17-22.

Departemen Pertanian. 2010. Basis Data Pertanian. http://database.deptan.go.id. [9 Juli 2014].

Ditjenbun. 2012. Statistik Perkebunan Indonesia: Karet 2009-2012. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta. 52 hal.

Fikriati, M., Trikoesoemaningtyas, dan Desta. W. 2009. Uji Daya Hasil Lanjutan Kedelai (Glycine max L.) Toleran Naungan di Bawah Tegakan Karet Rakyat di Kabupaen Sarolangun, Jambi. Makalah Seminar. Departemen Agronomi dan Hotikultura. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 68 hal.

Food and Agricultural Organization. 2002. FAOSTAT Agricultural database 2002. http://faostat.fao.org/faostat/.

Gomez, K.A and A.A. Gomez. 1995. Prosedur Statistik untuk Penelitian Pertanian. Terjemahan dari: Statistical Procedures for Agricultural Research. Penerjemah: E. Sjamsudin dan Baharsjah. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 698 hal.

Hoeman, S. 2007. Peluang dan potensi pengembangan sorgum manis. Makalah pada workshop. Peluang dan Tantangan Sorgum Manis sebagai Bahan Baku Bioetanol. Dirjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Irwan, A.W. 2006. Budidaya Tanaman Kedelai (Glycine max (I.) Merrill). Jurusan Budidaya Pertanian Faperta. Unpad. Jatinangor. 40 hal.

Oldeman. L., R. Irsal dan L. Muljadi. 1980. Agro-climatic map of Sumatra Scale 1:3.000.000. Centre Research Institute for Agriculture. Bogor. 35 hal.

Rodrigo, V.H.L., T.U.K. Silva dan E.S. Munasinghe. 2004. Improving the spatial arrangement of planting rubber (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) for long-term intercropping. Field Crops Research, 89(2): 327-335.

Raintree, J. 2005. Intercropping with Rubber for Risk Management. In: the National University of Laos, National Agriculture and Forestry Research Institute and National Agriculture and Forestry Extension Service. Improving Livelihoods in the Lao PDR. Volume 2: Options and Opportunities. Vientiane, Lao PDR. pp. 41-46.

Rodrigo, V.H.L., C.M. Stirling, T.U.K. Silva, dan P.D. Pathirana. 2005. The Growth and Yield of Rubber at Maturity is Improved by Intercropping with Banana During The Early Stage of Rubber Cultivation. Field Crops Research, 91 (1): 23–33.

Rosyid, M.J., G. Wibawa dan A. Gunawan. 2012. Pola Usahatani Karet. Saptabina.Usahatani Karet. Balai Penelitian Sembawa. Pusat Penelitian Karet (eds) ke- 6. Palembang. 126 hal.

Santoso, B. 2006. Pemberdayaan Lahan Podsolik Merah Kuning dengan Tanaman Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) di Kalimantan Selatan. J. Perspektif 5(1):1-12.

Setyowati, M., Hadiatmi, dan Sutoro. 2005. Evaluasi Pertumbuhan dan Hasil Plasma Nutfah Sorgum (Sorghum vulgare (L.) Moench.) dari Tanaman Induk dan Ratoon. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor. Buletin Plasma Nutfah. 11(2): 41-49.

Sihono. 2009. Penampilan Sifat Agronomi Galur Mutan Sorgum (Sorghum bicolor (L) Moench) di Kabupaten Bogor. Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi. Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional. Jakarta. 5(1): 31-42.

Soeranto, H., T.M. Nakanishi, dan M.T. Razak. 2003. Obtaining Induced Mutations of Drought Tolerance in Sorghum. Journal Radioisotopes, The Japan Radioisotopes. 52(1):15-21.

Soekartawi, A. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia. Jakarta.

Sukmadi, B. 2010. Difusi Pemanfaatan Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pestisida Hayati pada Budidaya Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.) di Kabupaten Lampung Tengah. Balai Pengkajian Bioteknologi Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penenerapan Teknologi, Jakarta.

Suparti, A. Asngad, dan Chalimah. 2012. Uji Kualitas Dan Kuantitas Produksi Bioethanol Batang Tanaman Sweet Sorghum Berbagai Varietas Skala Laboratorium. Laporan Hasil Penelitian Hibah Kompetitif Tahun I. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 39 hal.

Syawal, Y. 2010. Pergeseran gulma pada tanaman pepaya (Carica papaya) yang diberi pupuk organik dan anorganik. Jurnal Agroteknologi. 2(2):34-38.

Tabri, F. dan Zubachtirodin. 2013. Budi Daya Tanaman Sorgum. Hal. 175-188. Dalam Sumarno, D.S. Damardjati, M. Syam, dan Hermanto (Eds). Inovasi Teknologi dan Pengembangan Sorgum. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta :IAARD Press. 291 hal.

Toure, A., F.W. Rattunde, E. Weltzien. 2004. Guinea Sorghum Hybrids: Bringing the Benefits of Hybrid Technology to A Staple Crop of Sub-Saharan Africa. IER-ICRISAT.

Warsa, I.W. 2006. Kajian Pengaruh Fouling pada Pemurnian Nira Tebu. Jurnal Teknik Kimia, 1(1):22-25.

Wibawa, G. dan M.J. Rosyid. 1995. Peningkatan Produktivitas Padi Sebagai Tanaman Sela Karet. Warta Perkaretan, 14(1): 40-46.

Zeng Xianhai, Cai Mingdao and Lin Weifu. 2012. Improving Planting Pattern for Intercropping in The Whole Production Span of Rubber Tree. African Journal of Biotechnology, 11(34): 8484-8490.




DOI: http://dx.doi.org/10.24014/ja.v8i1.2079

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

Alamat : Jalan H.R Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru, Riau.

Email : jurnalagroteknologi@yahoo.com


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

View My Stats