Gambaran Kebahagiaan Mustahik Di Lembaga Amil Zakat Pekanbaru
DOI:
https://doi.org/10.24014/pib.v2i2.12624Abstract
Kebahagiaan merupakan salah satu kondisi yang ingin dicapai setiap orang. Berbagai situasi kehidupan seperti sulitnya memenuhi kebutuhan hidup dan tidak harmonisnya relasi sosial kadangkala menghambat pencapaian kebahagiaan. Penelitian ini mengkaji bagaimana gambaran kebahagiaan pada para mustahik yang ada di Pekanbaru. Sampel penelitian berjumlah 180 orang, merupakan para mustahik yang mendapat bantuan dari lembaga amil zakat dan mengikuti program pendampingan/pemberdayaan di 3 lembaga amil zakat. Alat ukur kebahagiaan yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi dari Oxford Happines Questionnaire (OHQ) yang dikembangkan oleh Argyle, Martin & Crossland. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa kebahagiaan para mustahik berada pada kategori tinggi. Selanjutnya hasil analisis one-way anova menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat kebahagiaan para mustahik berdasarkan jenis bantuan yang diterima. Begitu pula halnya dengan jenis kelamin, usia, dan pekerjaan. Hal ini berarti bahwa para mustahik mempersepsikan kondisi kehidupannya secara positif sehingga mampu menerima dirinya, menunjukkan perasaan senang dan optimis, memiliki harga diri yang baik, serta meyakini kemampuannya dalam menghadapi kehidupannya masing-masingReferences
Arief, M. F., & Habibah, N. (2015). Pengaruh Strategi Aktivitas (Bersyukur dan Optimis) terhadap Peningkatan Kebahagiaan pada Mahasiswa S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Seminar Psikologi & Kemanusiaan, Sidoarjo: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah.
Azwar. S. (2017). Metode Penelitian Psikologi Edisi Kedua . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto, S. (2011). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Basya, S. H. (2007). Kamus Mini Hidup Bahagia. Jakarta: Cakrawala
Carr, A. (2011). Positive Psychology. London and New York : Touledge
Colon-Baco, E. (2010). The Stengtt of Religious Belief is Important to Subjective Well Being. Undergraduate Economic Review Vol. 6
Diener, Ed & Biswas –Diener, Robert. (2001). Will Money Increase Subjective Well-Being.
Diener, E., Scollon, C.N., dan Lucas, R.E. (2003). The evolving concept of subjective well-being: the multifaceted nature of happiness. Advances in Cel Aging and Gerontology, 15,187-219.
Diener, E., E. M. Suh, R. E. Lucas, dan H. L Smith. (1999). Subjective well- being: Three decades of progress. Psychological Bulletin. 125: 276- 302.
Easterlin, R. A. (1974). Does Economic Growth Improve the Human Lot? In : Paul A. D., M. V. Reder (eds) Nations Households in Economic Growth: Essays in Honour of Moses Abramovitz. New York : Academic Press.
Eddington, N. dan Shuman, R. (2005). Subjective Well Being (Happiness).
http://www.texcpe.com/cpe/PDF/ca-happiness.pdf. Diakses pada 20Maret 2017.
Elzaky, J. (2015). Buku Pintar Mukjizat Kesehatan Ibadah. Jakarta : Zaman
Kementrian Agama Republik Indonesia. (2015). Pedoman Zakat 9 Seri. Jakarta :
Kemenag
Khavari, K. (2006). Menciptakan Kebahagiaan dalam Setiap Keadaan. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Lyubomirsky, S., Shedon, K M., dan Schkade, D. (2005). Pursuing Happiness:
The Architecture of Sustainable Change.” APA Review of General Psychology. 9(2),111-131.
Lyubomirsky, S., Tkach, C., & Dimatteo, M. R. (2006). What Are the Differences
Between Happiness and Self-Esteem. Social Indicators research. 78. 363-404.
Mustarin, B. (2009). Urgensi Pengelolaan Zakat Terhadap Peningkatan Perekonoian Masyarakat. Jurisprudentie. 4 (2) 83-95.
Putri. (2009). Kebahagiaan dan Kualitas Hidup Penduduk Jabodetabek (Studi Dewasa Muda Bekerja dan Tidak Bekerja). Skripsi: Universitas Indonesia.
Qudsyi, Novitasari, Fakhrunnisak, Ambarito, dan Yudhani. (2015). Kepuasan Hidup Orang Bekerja Ditinjau dari Faktor Pribadi, Pekerjaan, dan Pasangan. Conference paper Seminar Nasional UII 2015
Sartika, M. (2008). Pengaruh Pendayagunaan Zakat Produktif terhadap Pemberdayaan Mustahiq pada LAZ Yayasan Solo Peduli Surakarta. LaRiba Jurnal Ekonomi Islam Vol 2 (1)
Seligman, E. P, M. (2005). Authentic Happiness Menciptakan Kebahagiaan dengan Psikologi Positif. Bandung: Mizan.
Sentanu, E. (2009). Quantum ikhlas, teknologi aktivasi kekuatan hati. Jakarta : Elex Media Komputindo
Siregar, I. D. (2017). Anak Yatim Sebagai Mustahik Zakat di Kecamatan Sipirok Kabupaten tapanuli Selatan: Suatu Kajian Sosiologi Hukum. Journal of Islamic Law, (1) 2, 1-11. Retrieved from http://jurnal.uinsu.ac.id/index.php/attafahum/article/view/756
Urif, Z. A., Herwanto, T., Huzaini, M. (2018). Perilaku Mustahiq Dalam Memanfaatkan Dana Zakat Perspektif Ekonomi Islam. Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah. 5 (1), 86-109.
Veenhoven R. 2000. Happiness Relative.https://personal.eur.nl/veenhoven/ Pub1980s/89f-full.pdf diakses 16 Maret 2017
Wenas, G.E., Opod, Henry., dan Pali, C. (2015). Hubungan kebahagiaan dan status sosial ekonomi keluarga di Kelurahan Artembaga II Kota Bitung. Jurnal e-Biomedik (eBm). 3(1), 532-538
Wibowo, M. Ghafur. (2016). Kebijakan Pembangunan Nasional : dari Pertumbuhan (Growth) Menuju Kebahagiaan (Happiness). Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum. 50(1), 223-239
Wilson, W. P. (1997). Correlates of Avowed Happiness. Psychological Buletin No.67
Wulandari, S. & Widyastuti, A. (2014). Faktor - Faktor Kebahagiaan Di Tempat Kerja. Jurnal Psikologi. (1) 1, 49-60. Retrieved from: https://media.neliti.com/.